PENGERTIAN DASAR PROBLEM
SOLVING
(Sumardyono,
M.Pd.)
Agar
sukses dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan problem solving
(pemecahan
masalah), maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami
makna
problem solving.
Berikut ini dipaparkan tentang lima hal yang esensial mengenai
problem solving yang
seharusnya dapat dipahami dengan baik.
Pengertian Problem
atau Masalah
Barangkali
secara umum orang memahami masalah (problem) sebagai kesenjangan
antara
kenyataan dan harapan. Namun dalam matematika, istilah “problem” memiliki
makna
yang lebih khusus. Kata “Problem” terkait erat dengan suatu pendekatan
pembelajaran
yaitu pendekatan problem solving. Dalam hal ini tidak setiap soal dapat
disebut
problem atau
masalah. Ciri-ciri suatu soal disebut “problem” dalam perspektif
ini
paling tidak memuat 2 hal yaitu:
1.
soal tersebut menantang pikiran (challenging),
2.
soal tersebut tidak otomatis diketahui cara penyelesaiannya (nonroutine).
Becker
& Shimada (dalam McIntosh, R. & Jarret, D., 2000:5) menegaskan hal ini
sebagai
berikut:
Genuine problem solving requires a problem that is just beyond the
student’s skill level so that she will not automatically know
which solution
method to use. The problem should be nonroutine, in that the
student
perceives the problem as challenging and unfamiliar, yet not
insurmountable.
Kita,
para guru mungkin sering tidak menyadari bahwa kita terlalu banyak
memberi
soal-soal dalam satu jenis saja. Sayangnya, soal-soal yang sering kita beri
tidak
bernuansa pemecahan masalah. Ini disinyalir oleh Gardiner (1987:23): “Most of us
learn mathematics as a collection of standard techniques which are
used to solve
standard problems in predictable contexts”.
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
2
Departemen
Matematika dan Ilmu Komputer di Saint
Louis University (dalam
Department of Mathematics and Computer Science, 1993) mengemukakan lima tipe
soal
matematika:
1.
Soal-soal yang menguji ingatan (memory).
2.
Soal-soal yang menguji keterampilan (skills).
3.
Soal-soal yang membutuhkan penerapan keterampilan pada situasi yang biasa
(familiar).
4.
Soal-soal yang membutuhkan penerapan keterampilan pada situasi yang tidak biasa
(unfamiliar) – mengembangkan
strategi untuk masalah yang baru.
5.
Soal-soal yang membutuhkan ekstensi (perluasan) keterampilan atau teori yang
kita
kenal
sebelum diterapkan pada situasi yang tidak biasa (unfamiliar).
Soal
tipe 1, 2, dan 3 termasuk pada kelompok soal rutin (routine problems). Soal
tipe
inilah yang sering kita berikan kepada siswa, walaupun harus kita sadari bahwa
dengan
hanya memberi soal-soal tipe ini, tidak dapat meningkatkan keterampilan siswa
dalam
pemecahan masalah. Soal-soal dengan tipe 4 dan 5 merupakan soal-soal dalam
kelompok
non-rutin (non-routine problems) yang banyak mengasah kemampuan dalam
pemecahan
masalah.
Untuk
pembahasan lebih lanjut, kita akan melihat sudut pandang klasifikasi dari
Thomas
Butt (1980:23-30) sebagai berikut:
1.
Tipe soal ingatan (recognition)
Tipe
ini biasanya meminta kepada siswa untuk mengenali atau menyebutkan faktafakta
matematika,
definisi, atau pernyataan suatu teorema/dalil. Bentuk soal yang
dipakai
biasanya bentuk soal benar-salah, pilihan ganda, mengisi yang kosong, atau
dengan
format menjodohkan.
Contohnya
meminta siswa menyebut teorema Pythagoras, atau meminta siswa
menyebut
rumus integral parsial.
2.
Tipe soal prosedural atau algoritma (algorithmic)
Tipe
ini menghendaki penyelesaian berupa sebuah prosedur langkah demi langkah,
dan
seringkali berupa algoritma hitung. Pada soal tipe ini, umumnya siswa hanya
memasukkan
angka atau bilangan ke dalam rumus, teorema, atau algoritma.
Contohnya
meminta siswa untuk mencari akar suatu persamaan kuadrat, atau
mencari
turunan dari f(x) = 3x2 – 4x3 +
7x – 5.
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
3
3.
Tipe soal terapan (application)
Soal
aplikasi memuat penggunaan algoritma dalam konteks yang sedikit berbeda.
Soal-soal
cerita tradisional umumnya termasuk kategori soal aplikasi, dimana
penyelesaiannya
memuat: (a) merumuskan masalah ke dalam model matematika,
dan
(b) memanipulasi simbol-simbol berdasarkan satu atau beberapa algoritma.
Pada
soal tipe ini umumnya siswa mudah mengenal rumus atau teorema yang harus
dipergunakan.
Satu-satunya keterampilan baru yang harus mereka kuasai adalah
bagaimana
memahami konteks masalah untuk merumuskannya secara matematis.
Contoh.
Mali,
Setya, dan Roni berbelanja pulpen, pensil dan buku tulis. Mereka membeli
pulpen,
pensil dan buku tulis bermerek sama. Mali membeli sebuah pulpen, dua
buah
pensil dan tiga buah buku tulis seharga Rp12.300,00, Setya membeli membeli
dua
buah pulpen, dua buah pensil dan sebuah buah buku tulis seharga Rp8.500,00
dan
Roni membeli tiga pulpen dan sebuah buku tulis seharga Rp9.600,00. Berapa
harga
sebuah pensil yang mereka beli?
Soal
ini merupakan terapan masalah sistem persamaan linear.
4.
Tipe soal terbuka (open search)
Berbeda
dengan tiga tipe soal sebelumnya, maka pada tipe soal terbuka ini strategi
pemecahan
masalah tidak tampak pada soal. Soal-soal tipe ini umumnya
membutuhkan
kemampuan melihat pola dan membuat dugaan. Termasuk pada tipe
soal
ini adalah soal-soal matematika yang berkaitan dengan teka-teki dan
permainan.
Contoh.
Sebuah
permainan yang dikenal
dengan
nama Menara Hanoi, bentuk
alat
permainannya tampak di
samping.
Tujuan
permainan ini adalah memindahkan semua cakram (beserta
susunannya:
cakram kecil di atas cakram besar) dari tiang A ke tiang C, dengan
banyak
langkah minimum. Aturan pemindahannya adalah: (1) setiap langkah hanya
boleh
memindahkan 1 buah cakram, (2) tidak boleh cakram besar di atas cakram
A B C
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
4
kecil,
dan (3) boleh menggunakan tiang B (sebagai tempat transit). Pertanyaannya:
berapa
langkah minimum memindahkan n buah cakram?
5.
Tipe soal situasi (situation)
Salah
satu langkah krusial dalam tipe ini adalah mengidentifikasi masalah dalam
situasi
tersebut sehingga penyelesaian dapat dikembangkan untuk situasi tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan
dalam soal ini antara lain: “Berikan masukan atau pendapat
kamu!”,
“Bagaimana seharusnya?”, “Apa yang mesti dilakukan?”.
Soal-soal
dengan tipe ini jarang dinyatakan secara tuntas dalam sebuah kalimat
soal.
Dalam matematika, umumnya soal-soal tipe ini berkenaan dengan kegiatan
mandiri
atau soal proyek, di mana siswa dituntut untuk melakukan suatu
percobaan,
penggalian atau pengumpulan data, pemanfaatan sumber belajar baik
berupa
buku, media, maupun ahli (expert).
Cara
atau strategi dan juga hasil atau penyelesaian masalah bisa sangat berbeda
antara
siswa yang satu dengan siswa yang lain.
Contoh.
Area
parkir di SMA “Teladan” ada dua lokasi, yang satu berbentuk persegipanjang,
sedang
yang lain berbentuk trapesium. Ukurlah ukuran-ukuran panjang dan
lebarnya!
Sementara kendaraan yang diparkir ada mobil, sepeda motor, dan sepeda
kayuh
(onthel). Hitung atau perkirakan jumlah masing-masing kendaraan!
Bagaimana
menurut kamu, pengaturan parkir yang baik di sekolah kita? (gali datadata
pendukung
dari lapangan!)
Sebuah
soal dikatakan bukan “masalah” bagi seseorang umumnya bila soal tersebut
terlalu
mudah baginya. Suatu soal bersifat mudah, biasanya karena soal tersebut telah
sering
(rutin) dipelajari dan bersifat teknis. Umumnya, tipe soal ingatan dan tipe
soal
prosedural
termasuk kelompok soal-soal rutin (routine
problems), yaitu soal-soal yang
tergolong
mudah dan kurang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam hal
pemecahan
masalah. Sementara soal tipe terapan umumnya masih sebatas melatih
kemampuan
siswa menerjemahkan situasi masalah ke dalam model matematika. Soalsoal
dengan
tipe terbuka dan tipe situasi termasuk soal-soal yang cocok untuk
meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah.
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
5
Pengertian Problem Solving
Apa
itu problem solving? Istilah problem solving sering digunakan dalam berbagai
bidang
ilmu dan memiliki pengertian yang berbeda-beda pula. Tetapi problem solving
dalam
matematika memiliki kekhasan tersendiri. Secara garis besar terdapat tiga macam
interpretasi
istilah problem solving dalam pembelajaran matematika, yaitu (1) problem
solving sebagai tujuan (as a goal), (2) problem solving sebagai
proses (as a process),
dan
(3) problem solving sebagai keterampilan dasar (as a
basic skill). (Branca, N. A.
dalam
Krulik, S. & Reys, R. E., 1980:3-6).
1.
Problem solving sebagai
tujuan
Para
pendidik, matematikawan, dan pihak yang menaruh perhatian pada pendidikan
matematika
seringkali menetapkan problem solving sebagai salah satu tujuan
pembelajaran
matematika. Bila problem solving ditetapkan atau dianggap sebagai
tujuan
pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau masalah yang khusus,
prosedur,
atau metode, dan juga isi matematika. Anggapan yang penting dalam hal
ini
adalah bahwa pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan masalah (solve
problems) merupakan “alasan utama” (primary reason) belajar matematika.
2.
Problem solving sebagai
proses
Pengertian
lain tentang problem solving adalah sebagai sebuah proses yang
dinamis.
Dalam aspek ini, problem solving dapat diartikan sebagai proses
mengaplikasikan
segala pengetahuan yang dimiliki pada situasi yang baru dan tidak
biasa.
Dalam interpretasi ini, yang perlu diperhatikan adalah metode, prosedur,
strategi
dan heuristik yang digunakan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah.
Masalah
proses ini sangat penting dalam belajar matematika dan yang demikian ini
sering
menjadi fokus dalam kurikulum matematika.
Sebenarnya,
bagaimana seseorang melakukan proses problem
solving dan
bagaimana
seseorang mengajarkannya tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Tetapi
usaha
untuk membuat dan menguji beberapa teori tentang pemrosesan informasi
atau
proses problem solving telah banyak dilakukan. Dan semua ini memberikan
beberapa
prinsip dasar atau petunjuk dalam belajar problem
solving dan aplikasi
dalam
pengajaran.
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
6
3.
Problem solving sebagai
keterampilan dasar
Terakhir,
problem solving sebagai
keterampilan dasar (basic skill). Pengertian
problem solving sebagai
keterampilan dasar lebih dari sekedar menjawab tentang
pertanyaan:
apa itu problem solving?
Ada
banyak anggapan tentang apa keterampilan dasar dalam matematika. Beberapa
yang
dikemukakan antara lain keterampilan berhitung, keterampilan aritmetika,
keterampilan
logika, keterampilan “matematika”, dan lainnya. Satu lagi yang baik
secara
implisit maupun eksplisit sering diungkapkan adalah keterampilan problem
solving. Beberapa prinsip penting dalam problem solving berkenaan
dengan
keterampilan
ini haruslah dipelajari oleh semua siswa, seperti yang dikemukakan oleh
George
Polya tahun 1945.
Pentingnya Problem solving
Menurut
Polya, pekerjaan pertama seorang guru matematika adalah mengerahkan
seluruh
kemampuannya untuk membangun kemampuan siswa dalam menyelesaikan
masalah.
Mengapa hal ini menjadi penting? Alasan pertama adalah karena siswa
(bahkan
guru, kepala sekolah, orang tua, dan setiap orang) setiap harinya selalu
dihadapkan
pada suatu masalah, disadari atau tidak. Karena itu pembelajaran
pemecahan
masalah sejak dini diperlukan agar siswa dapat menyelesaikan problematika
kehidupannya
dalam arti yang luas maupun sempit.
Dalam
pembelajaran matematika ini aspek pemecahan masalah menjadi semakin
penting.
Mengapa? Ini dikarenakan matematika merupakan pengetahuan yang logis,
sistematis,
berpola, artifisial, abstrak, dan yang tak kalah penting menghendaki
justifikasi
atau pembuktian. Sifat-sifat matematika ini menuntut pembelajar
menggunakan
kemampuan-kemampuan dasar dalam pemecahan masalah, seperti
berpikir
logis, berpikir strategik. Selain itu secara timbal balik maka dengan
mempelajari
matematika, siswa terasah kemampuan dalam memecahkan masalah. Hal
ini
dikarenakan strategi dalam pemecahan masalah matematika bersifat “universal”
sesuai
sifat matematika sebagai bahasa yang universal (artifisial, simbolik). Selain
itu,
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
7
McIntosh,
R. & Jarret, D. (2000:6) menyatakan “The
thinking and skills required for
mathematical problem solving transfer to other areas of life”.
Secara
sistematis, Taplin menegaskan pentingnya problem
solving melalui tiga
nilai
yaitu fungsional, logikal, dan aestetikal. Secara fungsional, problem solving
penting
karena melalui problem solving maka nilai matematika sebagai disiplin ilmu
yang
esensial dapat dikembangkan. “It has
already been pointed out that mathematics
is an essential discipline because of its practical role to the
individual and society.
Through a problem-solving approach, this aspect of mathematics can
be developed.”,
demikian
ditegaskan Taplin (2007). Dengan fokus pada problem
solving maka
matematika
sebagai alat dalam memecahkan masalah dapat diadaptasi pada berbagai
konteks
dan masalah sehari-hari. Selain sebagai “alat” untuk meningkatkan
pengetahuan
matematika dan membantu memahami masalah sehari-hari, maka problem
solving juga merupakan cara berpikir (way of thinking). Dalam
perspektif terakhir ini
maka
problem solving membantu
kita meningkatkan kemampuan penalaran logis.
Terakhir,
problem solving juga
memiliki nilai aestetik. Problem solving melibatkan
emosi/afeksi
siswa selama proses pemecahan masalah. Masalah problem solving juga
dapat
menantang pikiran dan bernuansa teka-teki bagi siswa sehingga dapat
meningkatkan
rasa penasaran, motivasi dan kegigihan untuk selalu terlibat dalam
matematika.
Lebih
lanjut pentingnya problem solving juga dapat dilihat pada perannya dalam
pembelajaran.
Stanic & Kilpatrick seperti dikutip McIntosh, R. & Jarret, D. (2000:8).
membagi
peran problem solving sebagai konteks menjadi beberapa hal:
1.
Untuk pembenaran pengajaran matematika.
2.
Untuk menarik minat siswa akan nilai matematika, dengan isi yang berkaitan
dengan
masalah kehidupan nyata.
3.
Untuk memotivasi siswa, membangkitkan perhatian siswa pada topik atau prosedur
khusus
dalam matematika dengan menyediakan kegunaan kontekstualnya (dalam
kehidupan
nyata).
4.
Untuk rekreasi, sebagai sebuah aktivitas menyenangkan yang memecah suasana
belajar
rutin.
5.
Sebagai latihan, penguatan keterampilan dan konsep yang telah diajarkan secara
langsung
(mungkin ini peran yang paling banyak dilakukan oleh kita selama ini).
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
8
Problem solving sebagai
konteks menekankan pada penemuan tugas-tugas atau
masalah
yang menarik dan yang dapat membantu siswa memahami konsep atau
prosedur
matematika.
Pembelajaran Problem solving
Walaupun
secara umum para pendidik hanya terfokus pada materi matematika
ketika
menyinggung pembelajaran pemecahan masalah, namun sesungguhnya ada dua
dimensi
atau dua “materi” yaitu: (1) pembelajaran matematika melalui model atau
strategi
pemecahan masalah, dan (2) pembelajaran strategi pemecahan masalah itu
sendiri.
Yang pertama “pemecahan masalah” sebagai strategi atau model atau
pendekatan
pembelajaran, sedang yang kedua “pemecahan masalah” sebagai materi
pembelajaran.
Menurut
hemat penulis kedua dimensi ini sama-sama penting, karena “materi”
yang
pertama terkait dengan pentingnya problem
solving secara “fungsional”, sedang
materi
kedua terkait dengan pentingnya problem
solving sebagai “logikal” dan
“aestetikal”.
Barangkali yang dapat dilakukan kita adalah menerapkan pembelajaran
dengan
model pemecahan masalah sambil mengarahkan siswa untuk memahami dan
memiliki
keterampilan pemecahan masalah.
Mengenai
model atau pendekatan pemecahan masalah (problem
solving
approach), maka berikut ini karakteristik
khusus pendekatan pemecahan masalah
(dalam
Taplin, 2000).
1.
Adanya interaksi antar siswa dan interaksi guru dan siswa.
2.
Adanya dialog matematis dan konsensus antar siswa.
3.
Guru menyediakan informasi yang cukup mengenai masalah, dan siswa
mengklarifikasi,
menginterpretasi, dan mencoba mengkonstruksi penyelesaiannya.
4.
Guru menerima jawaban ya-tidak bukan untuk mengevaluasi.
5.
Guru membimbing, melatih dan menanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan
berwawasan
dan berbagi dalam proses pemecahan masalah.
6.
Sebaiknya guru mengetahui kapan campur tangan dan kapan mundur membiarkan
siswa
menggunakan caranya sendiri.
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
9
7.
Karakteristik lanjutan adalah bahwa pendekatan problem solving dapat
menggiatkan
siswa untuk melakukan generalisasi aturan dan konsep, sebuah proses
sentral
dalam matematika.
Bagaimana
tahap-tahap pembelajaran dengan pendekatan problem
solving berbedabeda
menurut
pendapat para ahli.
Karakterisik Pemecah Masalah yang Baik
Ada
kalanya kita kurang memahami karakteristik seorang pemecah masalah
(problem solver) yang baik, sehingga
seringkali identifikasi kita hanya terfokus pada
hasil
(apa yang ditemukan siswa, jawaban siswa), atau pada kecocokan proses
penyelesaian.
Dengan mengenali karakteristik pemecah masalah, maka kita dapat
melihat
potensi apa yang dimiliki oleh siswa serta apa yang harus kita lakukan untuk
meningkatkan
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.
Ada
banyak literatur dan pendapat mengenai ciri-ciri seorang pemecah masalah
(yang
baik). Suydam (1980:36) telah menghimpun dan menyaring ciri-ciri pemecah
masalah
yang baik dengan mengacu pada berbagai sumber (Dodson, Hollander,
Krutetskii,
Robinson, Talton dan lain-lain) menjadi 10 macam ciri. Berikut ini
kesepuluh
macam ciri pemecah masalah tersebut:
1.
Mampu memahami istilah dan konsep matematika.
2.
Mampu mengenali keserupaan, perbedaan, dan analogi.
3.
Mampu mengindentifikasi bagian yang penting serta mampu memilih prosedur dan
data
yang tepat.
4.
Mampu mengenali detail yang tidak relevan.
5.
Mampu memperkirakan dan menganalisis.
6.
Mampu memvisualkan dan mengintepretasi fakta dan hubungan yang kuantitatif.
7.
Mampu melakukan generalisasi dari beberapa contoh.
8.
Mampu mengaitkan metode-metode dengan mudah.
9.
Memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi, dengan tetap memiliki
hubungan
baik dengan rekan-rekannya.
10.
Tidak cemas terhadap ujian atau tes.
Pengertian
Dasar Problem Solving- Sumardyono, M.Pd.
1
0
Kita
seyogyanya dapat mengidentifikasi ciri-ciri tersebut pada peserta didiknya,
dan
selanjutnya dapat dijadikan pertimbangan untuk melakukan perbaikan pada proses
pembelajaran
secara terus menerus.
Daftar Pustaka
Branca,
N. A. “Problem solving as a goal,
process, and basic skill” dalam Krulik, S.
&
Reys,
R. E. (editor). 1980. Problem solving in school
mathematics. New York:
the
National Council of Teachers of Mathematics, Inc.
Butts,
Thomas. “Posing problems properly” dalam Krulik, S. & Reys, R. E. (editor).
1980.
Problem solving in school mathematics. New York: the National Council of
Teachers
of Mathematics, Inc. S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar